Saat itu hujan turun
dengan derasnya. Mengusir panas yang sebelumnya merajai. Aku masih saja menyukai
hujan, tapi entah kenapa tidak dengan yang ini. Kali ini terasa menyakitkan;
sekali lagi, tanpa sebab. Yang aku suka pada hujan kali ini, kamu ada disini
tanpa diminta. Bolehkah aku bersikap tenang ketika aku bisa melihat setiap
aktivitasmu?
Aku masih saja mampu, seperti biasanya menyembunyikan semuanya dalam balutan keceriaan bersama sahabat-sahabatku, termasuk kamu. Kalian yang paling bisa menghalau semua masalahku sejenak. Dengan kehebatan kalian masing-masing, aku bangga bisa ada di dalam lingkaran persahabatan ini.
Aku masih saja mampu, seperti biasanya menyembunyikan semuanya dalam balutan keceriaan bersama sahabat-sahabatku, termasuk kamu. Kalian yang paling bisa menghalau semua masalahku sejenak. Dengan kehebatan kalian masing-masing, aku bangga bisa ada di dalam lingkaran persahabatan ini.
Perahuku masih saja kamu pegang. Kamu mengajakku memilih tempat di antara luasnya sekolah kita. Lorong sisi utara, ya. Kamu menyetujuinya. Kamu terdiam sejenak, tenggelam dalam gemericik air. Aku tidak bertanya apa yang kamu lakukan. Aku mengikuti diammu, memohon kepada Tuhan agar kamu bisa tetap disini sampai kapanpun. Saat aku membuka mata, ternyata kamu sudah berjongkok memainkan air apa adanya. Kamu bertanya padaku, "berdoa ya?". Aku mengangguk ketika kamu lengah. "Kamu minta apa? Kok sambil merem gitu?". Pertanyaanmu membuatku geli. "Rahasia. Biar lebih khusyuk", jawabku. Kita terhanyut dalam percakapan yang entah bertopik apa. Absurd. Tapi aku suka. Kamu masih saja menyenangkan seperti saat kita berbincang-bincang pertama kali.
Kamu melarangku ketika aku meminta perahuku kulepas sendiri saja, di tempat yang berbeda denganmu. "Ngapain sendiri-sendiri kalo akhirnya ntar ketemu lagi?", katamu. Aku yang merasakan lamunanku semakin jauh tak terarah, lantas mencubit lengan sendiri agar tersadar. Entah kenapa ini sudah kesekian kalinya aku bertindak konyol di dekatmu. "Udah, disini aja, barengan aja", katamu lagi. Aku menghela nafas, memutuskan mengikuti apa katamu, karena aku masih percaya terhadapmu. Aku yang terduduk di sampingmu mulai berbicara banyak, tentang hujan, tentang dua perahu yang ada di tanganmu, tentang kenapa-perahu-sulit-melawan-arus air, dan tentang bagaimana-kita-di-sore-itu. Ternyata aku menitikkan air mata. Suaraku semakin serak, dan tiba-tiba kamu menanggapi, "Cerita aja nggak papa, tapi nggak usah nangis ya". Aku tak pernah suka kamu menenangkanku dengan nada mengejek seperti itu. "Cerita apa? Emang siapa yang nangis?", jawabku dengan ketus. Kita masih saja seperti dulu, kalau kata orang Jawa atos-atosan.
Hari itu semakin sore sedangkan kamu belum melepas perahu kita. Tiba-tiba kita dikejutkan oleh yang lain, "Ciyee, berduaan aja nih! Setannya dimana ya?". Mereka tetap mengejek kita. Tapi entah kenapa saat itu kita berdua hanya bisa membalas dengan senyuman. Dan mereka justru mengartikannya sebagai jawaban "Iya sengaja berduaan kok" yang terbungkus rapi dalam sebuah lengkungan bibir. Oh, Tuhan kapan sahabat-sahabatku berhenti mengejek?
Di dalam hujan yang masih deras, kita melepas perahu kita. Tentu mereka bersama kita. Kamu mengomando detik-detik penghanyutan perahu kita. Oke, satu kali lagi ketidakberuntungan menyapaku. Perahuku nyangkut di bebatuan. Kamu mencegahku mengambilnya. Kamu membiarkan celanamu yang tadinya hampir kering, kembali basah. Kamu mengembalikan perahuku ke jalur yang semestinya. Sosokmu berubah di sore itu. Kamu kembali membuatku terdiam dengan kata-katamu yang disertai senyuman, "Yang nyangkut cuma perahunya kok, pasti doa-doamu enggak".
Kita bersama-sama kembali ke lokasi yang dilanda banjir itu, masih saja bermain-main. Tapi kali ini kita juga membersihkannya. Kita mengambil serok dan alat pel dan membuang air ke bagian samping. Air yang menggenang setinggi mata kaki. Cukup lama jika hanya dibersihkan menggunakan alat-alat seperti itu. Tapi, satu-satunya yang membuat kita betah; kebersamaan.
Aku selalu merindukan kalian, Sahabat Super ♥

















