Bagaimana bisa kamu tetap bersabar dengan orang yang ada di rumah
hatimu; yang bahkan peduli terhadapmu saja tidak?
Hari ini terasa berat bagiku. Bekutat dengan bayanganmu
membuatku kewalahan mengatur emosi. Marah, kecewa, bingung, menyesal bercampur
menjadi satu. Suasana hatiku masih saja belum berubah. Kali ini ice cream tidak
bisa membantuku, begitu juga coklat, keju, lagu-lagu favoritku, dan rintik
hujan. Siapa yang bisa disalahkan atas kejadian itu? Tidak ada satupun.
Maaf kalau aku mengawali hari ini dengan kata hati, “kamu
jahat!”. Sosokmu yang ramah dan mudah diterima di mana saja seketika menghilang
entah kemana. Sepanjang hari aku terus mencarinya dalam diam, tetapi yang
kudapat adalah nol, kosong. Kekecewaan itu datang kembali.
Kemarahan ini juga kutelan sendiri. Terlanjur nyaman diberi
sesuatu yang ternyata palsu. Untuk kecewa pun sebenarnya juga sudah terlambat. “Dunia
tetap akan berputar, meskipun kamu sudah tidak berdiri di atasnya.”
Ada kalanya kebahagiaan juga kucicipi. Bisa berurusan dengan
kamu, yang dari awal aku pikir akan membuat hari-hariku selalu ceria ternyata
sangat membosankan. Bukan karena hubungan pertemanan kita yang monoton, tapi
justru sebaliknya. Hentakan-hentakan yang sering kamu ciptakan secara intensif
sudah membuatku mati rasa. Sehingga lama-kelamaan aku tidak mau memperdulikannya.
Berurusan denganmu juga menguatkan kepekaan perasaan. Dimana hatimu saat aku
mencapai titik peka yang sangat tinggi dan membutuhkan sandaran? Kamu juga mengalami
hal itu sama denganku, tapi dimana kedewasaanmu? Pertanyaan yang sudah banyak
kali kuucapkan walaupun aku tahu pasti tidak ada jawaban.
Sendiri dalam keramaian juga sempat beberapa kali
menyelimutiku. Merasa tidak bisa tertawa atau tersenyum di antara orang-orang
yang sedang ceria itu menyakitkan. Tatapan mereka yang seakan berkata, “berlebihan
banget sih, nggak bisa manfaatin momen yang kaya gini” seakan menyadarkanku. Aku berusaha terlihat normal dan
meminimalisir pertanyaan dari mereka, “kamu kenapa? Cerita boleh kok.”
Hm...sepertinya itu bukan ide yang bagus. Ini keramaian, dan kenapa kamu baru
menanyakan hal ini? Ingin terlihat peduli terhadap teman sendiri? Pft, basi. J Kemana perhatianmu
ketika aku sendiri dan kamu sedang asyik bermain dengan teman-temanmu yang
lain?
Kamu sadar pernah menepikanku saat aku berusaha menuju
tengah? Mungkin bagimu itu sebuah candaan, tapi dari caramu melakukannya
terlihat sangat terencana. Maaf aku berfikir negatif untuk yang kesekian
kalinya. Habis kamu kelewatan sih, cantik. Kalaupun emosiku tidak berhasil
kukendalikan, meja di didepanmu sudah terkunci menjadi target.
Aku bercerita kepada temanku yang lain, dia juga merasakan
selalu ada jarak antara kamu dan aku walaupun kita terlihat dekat. “Bilang ke
orangnya aja, semoga nanti bisa berubah”, katanya. Tapi aku menolak, “percuma. Egoisnya
nggak ketulungan kok.”
Kamu pernah bilang ini semua berawal dari kesalahpahaman
yang disebabkan olehku. Aku tidak mengerti. Itu bukan aku yang tiba-tiba
menghilang, tapi dari kejauhan aku melihat situasi bahwa aku sudah tidak lagi
dibutuhkan. Bagaimana aku bisa diterima dengan senyum selamat datang kalau
begitu? Respectmu masih sangat minim, cantik. Ditambah terus ya. J
Tidak ada timbal balik antara kamu dan aku sebagai seorang
teman terbukti ketika beberapa kali aku bercerita mengeluarkan keluh kesahku,
kamu selalu menanggapinya dengan candaan. Ketika aku bercerita dengan tetesan
air mata juga tetap kamu tanggapi begitu. Di saat aku belum menemukan solusi
dari kamu, rupanya kamu sudah pergi kembali ke teman-temanmu yang bisa
membuatmu nyaman. Perlakuanmu terhadapku dan dia terlihat mencolok. Dia selalu
kamu pedulikan, tapi aku? Dia selalu kamu temani berjalan, tapi aku? Apa ini masih
berkaitan dengan kesalahpahaman waktu itu? Apa ucapan maaf dan penjelasan yang
berulang kali dariku belum juga membuatmu sadar sampai sekarang?
“Teman yang baik
adalah yang mau menegur dan membenarkanmu di saat jalan yang kamu ambil itu
salah. Bukan yang selalu membenarkan apa yang kamu pikirkan, katakan dan
lakukan.”



No comments:
Post a Comment