Di antara kita pasti ada yang pernah benci sama seseorang, entah itu temen kita sendiri ataupun orang yang sama sekali belum kita kenal. Sebenernya apa sih benci itu? Sekedar nggak suka terus mengabadikan kemarahan? Kalo kata KBBI, definisi benci sendiri adalah sangat tidak suka. Nggak suka aja pake banget. Nah lo, parah kan?
Lain lagi sama pandangan dari psikologi, "ketika kita begitu amat sangat membenci seseorang, sebenarnya kita sedang membenci sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri (teori proyeksi)."
Beda lagi sama kata-kata orang bijak, "ketika cinta berjalan ke arah yang positif, maka yang berjalan ke arah negatif adalah kebencian". Tapi benci bukan lawan kata dari cinta.
Enakan mana sih antara benci dan sayang? Coba dilihat aja dari segi efeknya. Kalo sayang sama sesuatu, pasti ngebuat kita selalu pengen berhubungan sama sesuatu itu kan. Semisal itu benda, kita pasti udah mati-matian ngerawat, ngejaga biar nggak rusak, nggak hilang, dan tetep awet seiring berubahnya zaman. Nah, kalo sesuatu itu orang kita pasti selalu pengen & semangat ketemu, mood jadi bagus terus, ngerasa tenang dan nyaman mau ngelakuin apa aja bareng dia selama itu positif. Beda banget sama benci. Benci itu melelahkan, bisa bikin kegiatan saraf otak kita meningkat. Benci sama benda aja sering kali bikin kita alay. Kita pasti ogah-ogahan ketemu tuh benda. Ngapa-ngapain benda itu dengan seenak wudel gue. Terserah mau rusak, hilang atau apalah yang penting 'aku nggak mau lihat itu lagi.' Apalagi kalo benci sama orang... Apalagi kalo orang itu adalah temen kita sendiri... Apa ada rasa nggak enak? Apa hati kita udah penuh sama kata-kata "aku ya aku, kamu ya kamu."? Apa nggak ada rasa takut kalo-kalo perasaan benci itu mbleber kemana-mana?
Menjauhi, mengucilkan, nggak peduli, atos udah identik sama sikap A ketika benci sama B. B pun kalo digituin pasti akan ngebales juga walaupun secara nggak langsung atau gara-gara kesabarannya habis. Selama nggak ada yang bilang kalo dibenci itu menyenangkan, fase balas-membenci mungkin banget terjadi. Secara gitu ya, kita manusia biasa yang selalu berusaha meningkatkan level kesabaran. Tapi balik ke iman kita masing-masing aja, mungkin kita belum punya stok kesabaran yang banyak buat meredam emosi kita kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun situasinya. Maka dari itu, buat mencegah timbulnya kebencian sama orang lain hendaknya kita bisa berfikir positif sama orang itu sejak pertama ketemu. Jangan menduga yang aneh-aneh sebelum kenal perangainya. Kebiasaan ngejudge seenaknya sendiri juga bisa jadi alasan kenapa kita pernah dibenci. Mulailah menempelkan kalimat "Perlakukan orang lain seperti apa yang ingin kamu dapatkan dari perlakuan orang lain" di hati dan pikiranmu. Setelah itu, bergaullah dengan mereka. Pepatah "tak kenal maka tak sayang" masih berlaku kok sampe saat ini. Emang bener, mana mungkin kamu bisa langsung sayang sama orang yang baru kamu jumpai sekali? Love at first sight? Oh ya, sayang dan cinta itu beda...tipis. Berdasarkan logika, cinta pada pandangan pertama itu melihat apa sih? Menurutku fisik, bukan sifat. Sedangkan sayang itu lebih menyeluruh dan mencakup semua. Sayang butuh proses yang lebih dalam.
Selanjutnya, biasakan berkata jujur sama temenmu. Apa yang tidak kamu sukai dari sifatnya? Ungkapin aja, tapi jangan melupakan etika. Selalu memendam apa-apa sendirian itu sama aja menyiksa batinmu, guys. Gini ya, sesuatu yang terlalu lama kamu simpan di hati ibarat granat yang udah kamu lepas bagian atasnya itu. Sebentar lagi bakal meledak dan siapa yang bisa njamin meledaknya di sikon yang tepat? Lebih baik lakuin pencegahan daripada memperbaiki.
Terus gimana dong kalo ada orang yang dari sifat dasarnya udah pembenci? Kita nggak bisa ngerubah total, of course. Kuncinya cuma belajar memaafkan dan mendoakan orang-orang yang pernah dia benci, walaupun nggak kenal, walaupun nggak salah. :) Selama dia udah punya niat, pasti ada jalan kok.
Semangat bersosialisasi di kehidupan masyarakat! Tundukkan benci dan ambillah kendali atas itu! ☺ง
“Cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu suatu saat ia menjadi kekasihmu”. - M. Quraish Shihab.

No comments:
Post a Comment