Kali ini, aku mencoba menceritakan sejarah yang dulu pernah terjadi. Mungkin, si 'Aku' dalam puisi di bawah ini pun sudah melupakan apa yang dulu pernah dialaminya, apa yang dulu pernah diperjuangkannya. Atau justru kini bersedih hati karena melihat adik-adik penerus perjuangannya telah melupakan nilai-nilai yang dulu diusahakannya. Aku, sebagai penulis, tak bermaksud untuk mengungkit-ungkit sejarah dan bertindak sia-sia. Hanya mencoba mengingatkan kembali bagi generasi masa kini, apa yang dulu pernah terjadi, dan nilai-nilai apa yang seharusnya 'everlasting', namun justru mulai ditinggalkan masa kini.
Mari sejenak kembali ke SMA 1 di penghujung dasawarsa '80-an
***********************************************************************
Aku wanita
Hanya seorang wanita biasa
Yang mencoba
Melakukan apa yang aku bisa
Melaksanakan apa yang diperintahkanNya
Melakukan apa yang aku bisa
Melaksanakan apa yang diperintahkanNya
"Dan Katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara farji-nya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan (aurat) nya kepada suami mereka...."
An Nur 31, al ayat
Perintah itu sangat sederhana bagiku
Apa yang aku yakini saat ini
Itulah yang akan segera aku lakukan kini
Aku sedikit tak peduli
Mungkin benar-benar tak peduli
Dengan apa yang akan terjadi nanti
Apa yang aku yakini saat ini
Itulah yang akan segera aku lakukan kini
Aku sedikit tak peduli
Mungkin benar-benar tak peduli
Dengan apa yang akan terjadi nanti
Aku coba menggunakan tudung suci
Ku mulai menyempurnakan penutup syar'i
Hijab yang menjaga perhiasan titipan Illahi
Hijab yang semoga 'kan menjaga iman dalam hati
Hijab yang menjaga perhiasan titipan Illahi
Hijab yang semoga 'kan menjaga iman dalam hati
Aku bukan wanita sempurna
Aku juga manusia biasa
Akrab dengan Dosa, Lupa
Namun, bukan berarti itu membuatku berhenti
Berhenti berarti mati
Aku belajar kini
Belajar memahami apa yang telah aku yakini
Islam, risalah suci
Akrab dengan Dosa, Lupa
Namun, bukan berarti itu membuatku berhenti
Berhenti berarti mati
Aku belajar kini
Belajar memahami apa yang telah aku yakini
Islam, risalah suci
Lalu,
Kau pikir aku 'kan mendapat pujian dengan pilihanku
Kau pikir aku 'kan jadi terkenal dengan jilbabku
Kau pikir aku kan dijunjung tinggi, dihormati, dan disegani dengan keputusanku?
Tidak, Allah memilihkan kemuliaan yang lebih baik bagiku
Ada cacian
Ada makian
Ada umpatan
Ada pemaksaan
Mereka mencoba menghentikanku di tengah jalan
Pintu SMA, mereka telah menungguku
Membawa tongkat kayu
Bersiap untuk memaksaku
Melepas Kerudung suciku
Pintu kelas, mereka menantiku
"Keluar dari sini, atau lepas kain tak wajarmu!"
bentak mereka padaku
Dan laci-laci kelasku
Tas-tas sekolahku
Menjadi saksi bisu perjuanganku
Di sanalah aku menyimpan kainMu
Demi memenuhi perintahMu
Aku sendiri
Di awal tahun pertama
Aku mencoba
Aku mencoba
Allah sangat Adil bagiku
Allah sayang padaku
Percayalah
Dia Yang Mahatahu
Dia Yang Mendengar doa-doaku
Jangan kau tanya bukti
Itu telah jelas terjadi
Generasi setelahku
Telah tumbuh bunga-bunga perjuanganku
Yang telah menghasilkan buah keanggunan sekolahku
Satu
Satu demi satu kain itu
Mencoba membuat syar'i wanita-wanita itu
Satu
Satu demi satu kain itu
Mencoba membuat syar'i wanita-wanita itu
Jangan kau tanya bukti
Itu telah jelas terjadi
Berpuluh tahun setelah aku
Kain putih menghiasi sekolahku
Kain suci yang kuperjuangkan dulu
Kini, aku tak tahu lagi bagaimana generasi ini
Aku tak terlalu peduli
Kalian mencelaku aku atau memuji
Yang tak bisa kalian pungkiri
Aku terlanjur mengawalinya dulu
Akulah sang Pembaharu
***********************************************************************
Ditulis untuk mengenang perjuangan Akhwat pertama yang berjilbab di SMA 1.
Aku tidak tahu pastinya tanggal berapa itu terjadi. Dalam tulisan yang pernah aku baca, hanya disebutkan "Sebelum tahun 1990". Saat itu identitas keagamaan tidak diperkenankan dipakai di sekolah, termasuk jilbab. Larangan ini resmi dari pemerintah kala itu. Dalam tulisan yang aku baca, diterangkan bahwa si "Aku" setiap harinya diperiksa di gerbang depan sekolah. Pihak sekolah telah menunggunya dan memaksanya untuk mencopot kerudungnya. Karena itu dia terpaksa menyimpan kerudungnya di dalam tas sekolah. Di dalam kelas, ada beberapa guru yang mengizinkannya untuk memakai kerudung. Jika tidak, maka ia akan menyimpan kerudungnya di dalam laci meja siswa.
Sampai akhirnya keluarlah Surat Keputusan Menteri Agama no 100 tahun 1990 tentang diperbolehkannya pemakaian pakaian khusus di sekolah. Saat itulah jilbab, rok, dan baju lengan panjang diperbolehkan. SK itu keluar setelah salah seorang guru Agama Islam SMA 1 mengajukan surat permohonan dengan datang ke Jakarta langsung.
Aku sadar ada data-data yang tidak dapat aku pertanggungjawabkan sumbernya. Aku hanya mencoba menceritakan apa yang aku baca, apa yang pernah diceritakan padaku.
Bersyukurlah saudaraku, betapa perjuangan yang kita alami saat ini tidak lebih berat dari apa yang dulu pernah terjadi. Dengan demikian kuakhiri tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.
Aku, Sang Pembaharu
No comments:
Post a Comment