MEMOIR
Ketika rindu
yang sepihak menjadi alasan membenci malam
Kiasan demi
kiasan tak segera disampaikan angin
Isyarat yang
terpendam, melampaui batas logika
Rasa kecewa
mendominasi ketakutan
Kebisuan ini menyayat.
Sadarkah?
Aku menjadi
aku, kau menjadi kau
Kemanapun
kakiku menapak, skakmat; pindah!
Kita dirajai
egois, dikuasai gengsi
Kemana kau
saat aku terkurung sepi, menabung mimpi
Sendiri?
Kemana kau
saat aku membungkam fakta,
Membalikkan
rasa sakit hati?
Dimana
cerahnya kolaborasi memori itu?
Fatamorgana
adanya
Ribuan detik
itu, tak tersisa ataupun mengendap
Menyimpan
tanda tanya raksasa
Memayungi
berbagai curiga
Awan kelabu
menjadi saksi seorang
Sepasang
remaja menenun kisah
Bak laba-laba
memintal benang, tak sekejap
Kokoh terlihat
namun rapuh
Tapi apa?
Ketika makhluk-Nya yang lain berantagonis
Meremukkan
dengan angkuh, cukup sekejap
Itulah kita
Yang kini
terpisahkan jurang tak berdasar
Berkawan dengan kesendirian
Berlawan
dengan pertemuan
Tangisanku
bukan berarti duka
Bukan berarti
luka
Ketegaranku
bukan berarti tak goyah
Bukan berarti
tak merasa
Keteguhan
sikapku bukan berarti acuh
Bukan berarti
tak memahami
Kepalaku yang tak
berpaling bukan berarti berhenti peduli
Bukan berarti
berhenti memperhatikan
Diamku bukan
berarti tak tahu
Bukan berarti
tak mau tahu
Aku masih
mengais kerendahan hatimu
Di antara
jarum yang tak absen menggores
Di antara
senyum yang tak lagi ramah
Di antara
untaian kata yang tak lagi denotatif
Pemberianmu
masih terjaga dengan baik
Menyimbolkan
keakraban kita
Walau kini tak
lagi erat
Terimakasih
untuk semuanya
Tertanda,
perempuan yang masih dan selalu kuat
No comments:
Post a Comment