12/05/2012

Seutas Kita


MEMOIR

Ketika rindu yang sepihak menjadi alasan membenci malam
Kiasan demi kiasan tak segera disampaikan angin
Isyarat yang terpendam, melampaui batas logika
Rasa kecewa mendominasi ketakutan
Kebisuan ini menyayat. Sadarkah?

Aku menjadi aku, kau menjadi kau
Kemanapun kakiku menapak, skakmat; pindah!
Kita dirajai egois, dikuasai gengsi

Kemana kau saat aku terkurung sepi, menabung mimpi
Sendiri?
Kemana kau saat aku membungkam fakta,
Membalikkan rasa sakit hati?
Dimana cerahnya kolaborasi memori itu?
Fatamorgana adanya
Ribuan detik itu, tak tersisa ataupun mengendap
Menyimpan tanda tanya raksasa
Memayungi berbagai curiga

Awan kelabu menjadi saksi seorang
Sepasang remaja menenun kisah
Bak laba-laba memintal benang, tak sekejap
Kokoh terlihat namun rapuh
Tapi apa? Ketika makhluk-Nya yang lain berantagonis
Meremukkan dengan angkuh, cukup sekejap
Itulah kita
Yang kini terpisahkan jurang tak berdasar
Berkawan  dengan kesendirian
Berlawan dengan pertemuan

Tangisanku bukan berarti duka
Bukan berarti luka
Ketegaranku bukan berarti tak goyah
Bukan berarti tak merasa
Keteguhan sikapku bukan berarti acuh
Bukan berarti tak memahami
Kepalaku yang tak berpaling bukan berarti berhenti peduli
Bukan berarti berhenti memperhatikan
Diamku bukan berarti tak tahu
Bukan berarti tak mau tahu

Aku masih mengais kerendahan hatimu
Di antara jarum yang tak absen menggores
Di antara senyum yang tak lagi ramah
Di antara untaian kata yang tak lagi denotatif

Pemberianmu masih terjaga dengan baik
Menyimbolkan keakraban kita
Walau kini tak lagi erat


Terimakasih untuk semuanya
Tertanda, perempuan yang masih dan selalu kuat

No comments:

Post a Comment