Entah apa yang harus dipertanyakan lagi tentang orang yang menunggu sesuatu-yang-tidak-akan-terjadi. Demi apa? Apa demi keinginan hati yang tetap ingin diperjuangkan walaupun dari awal tahu kalau akan sia-sia?
Orang lain yang tahu persis apa yang kamu tunggu dan bagaimana perjuanganmu saja merasa lelah sekaligus bosan, apa kamu yang bersangkutan masih mengabaikan segala bentuk protes dari hatimu sendiri? Terus melakukan pengabaian sampai kamu sadar bahwa semakin hari hatimu semakin mati?
Aku hanya tidak bisa terima mengapa kamu begitu merasa terkunci oleh sesuatu yang bahkan nyata saja tidak...
Kamu memang tidak salah, hanya saja terlalu membatasi pandangan. Hanya saja selalu membenamkan muka ke dalam harapan-harapan buatanmu sendiri.
Kamu tidak bodoh membuat waktu berhargamu terbuang percuma, hanya saja kamu terlalu memilih menerima tanpa mencoba melawan.
Itu namanya bukan setia, tapi kamu yang memaksa.
Itu bukan sesuatu yang disebut aku-menunggu-sampai-momennya-tepat. Karena momen yang tepat tidak akan pernah ada, kecuali kamu yang membuatnya ada.

No comments:
Post a Comment