10/26/2013

Menunggu



Entah apa yang harus dipertanyakan lagi tentang orang yang menunggu sesuatu-yang-tidak-akan-terjadi. Demi apa? Apa demi keinginan hati yang tetap ingin diperjuangkan walaupun dari awal tahu kalau akan sia-sia?

2/09/2013

Sepucuk Surat

Ketika kemauan hati dengan kemampuan fisikmu tidak lagi berjalan beriringan, aku percaya kalau Tuhan pasti akan memberikan segalanya yang terbaik buatmu, sekalipun itu hal yang paling tidak kamu inginkan. Sekalipun itu adalah hal yang paling kamu hindari. Sekalipun itu hal yang menurutmu tidak akan membawa perubahan bagi pribadimu.

Apapun pilihan Tuhan buatmu, taruhlah 100% keyakinan di dalam nuranimu saat menerimanya. Buang 0,1% pun keraguan di dalamnya. Perbaiki niat lalu bulatkan tekad selama kamu masih bisa bebas memanjatkan doa kepadaNya.

Lengan kami akan siap menjagamu.
Bahu kami akan kuat menampung keluh kesahmu.
Selagi kita bisa melalui ini bersama-sama, semua kesulitan akan menjadi mudah dengan ijinNya.
Semangat kami akan senantiasa tersalur untukmu.

"Ketika orang-orang di luar sana sudah tidak ada lagi yang mempercayaimu. Percayalah, ada aku yang masih dan selalu percaya kepadamu."


Salam rindu dari kami; keluargamu.
Segeralah berteriak bersama kami lagi dalam sebuah lingkaran.
Segeralah kembali menjadi kita di satu tempat yang sama.
Cepat membaik.
Cepat sehat kembali.
Cepat berkelakuan seperti kamu yang sedia kala, Sahabat Super. 
Jangan lama-lama berbaring di sana.

Teruntuk:
Gadis hebat yang berhati kuat, berkeinginan keras,
dan mempunyai tanggung jawab yang besar.

2/03/2013

A True Man's Arm


:')




Kenalilah Kebencian



Di antara kita pasti ada yang pernah benci sama seseorang, entah itu temen kita sendiri ataupun orang yang sama sekali belum kita kenal. Sebenernya apa sih benci itu? Sekedar nggak suka terus mengabadikan kemarahan? Kalo kata KBBI, definisi benci sendiri adalah sangat tidak suka. Nggak suka aja pake banget. Nah lo, parah kan?

1/20/2013

Kawan atau Lawan?

Bagaimana bisa kamu tetap bersabar dengan orang yang ada di rumah hatimu; yang bahkan peduli terhadapmu saja tidak?

Hari ini terasa berat bagiku. Bekutat dengan bayanganmu membuatku kewalahan mengatur emosi. Marah, kecewa, bingung, menyesal bercampur menjadi satu. Suasana hatiku masih saja belum berubah. Kali ini ice cream tidak bisa membantuku, begitu juga coklat, keju, lagu-lagu favoritku, dan rintik hujan. Siapa yang bisa disalahkan atas kejadian itu? Tidak ada satupun.

Maaf kalau aku mengawali hari ini dengan kata hati, “kamu jahat!”. Sosokmu yang ramah dan mudah diterima di mana saja seketika menghilang entah kemana. Sepanjang hari aku terus mencarinya dalam diam, tetapi yang kudapat adalah nol, kosong. Kekecewaan itu datang kembali.

Kemarahan ini juga kutelan sendiri. Terlanjur nyaman diberi sesuatu yang ternyata palsu. Untuk kecewa pun sebenarnya juga sudah terlambat. “Dunia tetap akan berputar, meskipun kamu sudah tidak berdiri di atasnya.”

Ada kalanya kebahagiaan juga kucicipi. Bisa berurusan dengan kamu, yang dari awal aku pikir akan membuat hari-hariku selalu ceria ternyata sangat membosankan. Bukan karena hubungan pertemanan kita yang monoton, tapi justru sebaliknya. Hentakan-hentakan yang sering kamu ciptakan secara intensif sudah membuatku mati rasa. Sehingga lama-kelamaan aku tidak mau memperdulikannya. Berurusan denganmu juga menguatkan kepekaan perasaan. Dimana hatimu saat aku mencapai titik peka yang sangat tinggi dan membutuhkan sandaran? Kamu juga mengalami hal itu sama denganku, tapi dimana kedewasaanmu? Pertanyaan yang sudah banyak kali kuucapkan walaupun aku tahu pasti tidak ada jawaban.

Sendiri dalam keramaian juga sempat beberapa kali menyelimutiku. Merasa tidak bisa tertawa atau tersenyum di antara orang-orang yang sedang ceria itu menyakitkan. Tatapan mereka yang seakan berkata, “berlebihan banget sih, nggak bisa manfaatin momen yang kaya gini” seakan  menyadarkanku. Aku berusaha terlihat normal dan meminimalisir pertanyaan dari mereka, “kamu kenapa? Cerita boleh kok.” Hm...sepertinya itu bukan ide yang bagus. Ini keramaian, dan kenapa kamu baru menanyakan hal ini? Ingin terlihat peduli terhadap teman sendiri? Pft, basi. J Kemana perhatianmu ketika aku sendiri dan kamu sedang asyik bermain dengan teman-temanmu yang lain?

Kamu sadar pernah menepikanku saat aku berusaha menuju tengah? Mungkin bagimu itu sebuah candaan, tapi dari caramu melakukannya terlihat sangat terencana. Maaf aku berfikir negatif untuk yang kesekian kalinya. Habis kamu kelewatan sih, cantik. Kalaupun emosiku tidak berhasil kukendalikan, meja di didepanmu sudah terkunci menjadi target.

Aku bercerita kepada temanku yang lain, dia juga merasakan selalu ada jarak antara kamu dan aku walaupun kita terlihat dekat. “Bilang ke orangnya aja, semoga nanti bisa berubah”, katanya. Tapi aku menolak, “percuma. Egoisnya nggak ketulungan kok.”

Kamu pernah bilang ini semua berawal dari kesalahpahaman yang disebabkan olehku. Aku tidak mengerti. Itu bukan aku yang tiba-tiba menghilang, tapi dari kejauhan aku melihat situasi bahwa aku sudah tidak lagi dibutuhkan. Bagaimana aku bisa diterima dengan senyum selamat datang kalau begitu? Respectmu masih sangat minim, cantik. Ditambah terus ya. J

Tidak ada timbal balik antara kamu dan aku sebagai seorang teman terbukti ketika beberapa kali aku bercerita mengeluarkan keluh kesahku, kamu selalu menanggapinya dengan candaan. Ketika aku bercerita dengan tetesan air mata juga tetap kamu tanggapi begitu. Di saat aku belum menemukan solusi dari kamu, rupanya kamu sudah pergi kembali ke teman-temanmu yang bisa membuatmu nyaman. Perlakuanmu terhadapku dan dia terlihat mencolok. Dia selalu kamu pedulikan, tapi aku? Dia selalu kamu temani berjalan, tapi aku? Apa ini masih berkaitan dengan kesalahpahaman waktu itu? Apa ucapan maaf dan penjelasan yang berulang kali dariku belum juga membuatmu sadar sampai sekarang?


“Teman yang baik adalah yang mau menegur dan membenarkanmu di saat jalan yang kamu ambil itu salah. Bukan yang selalu membenarkan apa yang kamu pikirkan, katakan dan lakukan.”



1/10/2013

Stuck in that dialogue.

2012 sudah berganti ke 2013.
Tapi aku, masih duduk manis, mungkin bangkuku terasa sangat nyaman untuk diduduki, sehingga aku tak ada niatan untuk berpindah. Pemandangan di depanku bukan sekedar roll film yang diputar, dimainkan. Tetapi ini scene dari Tuhan. Aku masih menjadi penonton, yang juga belum lelah menunggu giliranku main.

Hingga pada suatu saat nanti, aku ingin ber-lawan-main denganmu. Terserah Tuhan endingnya bagaimana, tapi sejujurnya ketika kamu ada disini, semuanya selalu terlihat baik-baik saja. Walaupun yang di dalam sini tidak henti berkamuflase.
sorry,sorry,sorry..! ._.<3#
Miss you, Hero. :)