12/25/2012

Perahu Kertas


Saat itu hujan turun dengan derasnya. Mengusir panas yang sebelumnya merajai. Aku masih saja menyukai hujan, tapi entah kenapa tidak dengan yang ini. Kali ini terasa menyakitkan; sekali lagi, tanpa sebab. Yang aku suka pada hujan kali ini, kamu ada disini tanpa diminta. Bolehkah aku bersikap tenang ketika aku bisa melihat setiap aktivitasmu?

Aku masih saja mampu, seperti biasanya menyembunyikan semuanya dalam balutan keceriaan bersama sahabat-sahabatku, termasuk kamu. Kalian yang paling bisa menghalau semua masalahku sejenak. Dengan kehebatan kalian masing-masing, aku bangga bisa ada di dalam lingkaran persahabatan ini.


Hujan semakin saja liar, menyertakan gemuruh petir yang tak pernah kusukai. Tempat kita banjir, Sahabat. Kita memang sama-sama menyukai hujan, dan segala hipnotis yang dibawanya. Kita yang sampai sore itu masih memakai seragam sekolah bermain air sepuasnya layaknya anak kecil. Kita pandai memanfaatkan waktu untuk menepikan masalah. Salah satu dari kita mengajak membuat perahu kertas yang di dalamnya berisikan permohonan kita, sebelum dilepas mengikuti aliran air hujan yang entah akan membawanya kemana. Aku, yang saat itu lupa membuat origami perahu dengan bodohnya justru menantang kalian. Padahal kalianlah yang paling ahli melipat kertas menjadi sebuah perahu. Aku masih saja berkutat dengan selembar kertas itu di saat yang lain sudah bergerak menuju suatu tempat pilihan masing-masing, untuk menghanyutkan perahunya. Aku memang sengaja tak meminta bantuan, tapi kamu datang. Dengan membawa selembar kertas baru kamu berkata, "kalo nggak bisa bikin bilang dong. Kamu tulis permohonanmu disini, nanti aku aja yang bikin perahunya". Aku tak menjawab. Ku tulis semua keinginanku. Kamu masih sama, tidak sabar menungguku. Ngomong-ngomong, perahu buatanmu bagus :)

Perahuku masih saja kamu pegang. Kamu mengajakku memilih tempat di antara luasnya sekolah kita. Lorong sisi utara, ya. Kamu menyetujuinya. Kamu terdiam sejenak, tenggelam dalam gemericik air. Aku tidak bertanya apa yang kamu lakukan. Aku mengikuti diammu, memohon kepada Tuhan agar kamu bisa tetap disini sampai kapanpun. Saat aku membuka mata, ternyata kamu sudah berjongkok memainkan air apa adanya. Kamu bertanya padaku, "berdoa ya?". Aku mengangguk ketika kamu lengah. "Kamu minta apa? Kok sambil merem gitu?". Pertanyaanmu membuatku geli. "Rahasia. Biar lebih khusyuk", jawabku. Kita terhanyut dalam percakapan yang entah bertopik apa.
 Absurd. Tapi aku suka. Kamu masih saja menyenangkan seperti saat kita berbincang-bincang pertama kali.

Kamu melarangku ketika aku meminta perahuku kulepas sendiri saja, di tempat yang berbeda denganmu. "Ngapain sendiri-sendiri kalo akhirnya ntar ketemu lagi?", katamu. Aku yang merasakan lamunanku semakin jauh tak terarah, lantas mencubit lengan sendiri agar tersadar. Entah kenapa ini sudah kesekian kalinya aku bertindak konyol di dekatmu. "Udah, disini aja, barengan aja", katamu lagi. Aku menghela nafas, memutuskan mengikuti apa katamu, karena aku masih percaya terhadapmu. Aku yang terduduk di sampingmu mulai berbicara banyak, tentang hujan, tentang dua perahu yang ada di tanganmu, tentang kenapa-perahu-sulit-melawan-arus air, dan tentang bagaimana-kita-di-sore-itu. Ternyata aku menitikkan air mata. Suaraku semakin serak, dan tiba-tiba kamu menanggapi, "Cerita aja nggak papa, tapi nggak usah nangis ya". Aku tak pernah suka kamu menenangkanku dengan nada mengejek seperti itu. "Cerita apa? Emang siapa yang nangis?", jawabku dengan ketus. Kita masih saja seperti dulu, kalau kata orang Jawa
 atos-atosan.

Hari itu semakin sore sedangkan kamu belum melepas perahu kita. Tiba-tiba kita dikejutkan oleh yang lain, "Ciyee, berduaan aja nih! Setannya dimana ya?". Mereka tetap mengejek kita. Tapi entah kenapa saat itu kita berdua hanya bisa membalas dengan senyuman. Dan mereka justru mengartikannya sebagai jawaban "Iya sengaja berduaan kok" yang terbungkus rapi dalam sebuah lengkungan bibir. Oh, Tuhan kapan sahabat-sahabatku berhenti mengejek?

Di dalam hujan yang masih deras, kita melepas perahu kita. Tentu mereka bersama kita. Kamu mengomando detik-detik penghanyutan perahu kita. Oke, satu kali lagi ketidakberuntungan menyapaku. Perahuku nyangkut di bebatuan. Kamu mencegahku mengambilnya. Kamu membiarkan celanamu yang tadinya hampir kering, kembali basah. Kamu mengembalikan perahuku ke jalur yang semestinya. Sosokmu berubah di sore itu. Kamu kembali membuatku terdiam dengan kata-katamu yang disertai senyuman, "Yang nyangkut cuma perahunya kok, pasti doa-doamu enggak".


Kita bersama-sama kembali ke lokasi yang dilanda banjir itu, masih saja bermain-main. Tapi kali ini kita juga membersihkannya. Kita mengambil serok dan alat pel dan membuang air ke bagian samping. Air yang menggenang setinggi mata kaki. Cukup lama jika hanya dibersihkan menggunakan alat-alat seperti itu. Tapi, satu-satunya yang membuat kita betah; kebersamaan.



              Aku selalu merindukan kalian, Sahabat Super 

12/22/2012

Aku, Sang Pembaharu [Re-Post]

Tulisan ini diambil dari sini :)

Kali ini, aku mencoba menceritakan sejarah yang dulu pernah terjadi. Mungkin, si 'Aku' dalam puisi di bawah ini pun sudah melupakan apa yang dulu pernah dialaminya, apa yang dulu pernah diperjuangkannya. Atau justru kini bersedih hati karena melihat adik-adik penerus perjuangannya telah melupakan nilai-nilai yang dulu diusahakannya. Aku, sebagai penulis, tak bermaksud untuk mengungkit-ungkit sejarah dan bertindak sia-sia. Hanya mencoba mengingatkan kembali bagi generasi masa kini, apa yang dulu pernah terjadi, dan nilai-nilai apa yang seharusnya 'everlasting', namun justru mulai ditinggalkan masa kini.


Mari sejenak kembali ke SMA 1 di penghujung dasawarsa '80-an

***********************************************************************

Aku wanita
Hanya seorang wanita biasa
Yang mencoba
Melakukan apa yang aku bisa
Melaksanakan apa yang diperintahkanNya

"Dan Katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara farji-nya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan (aurat) nya kepada suami mereka...."
An Nur 31, al ayat

Perintah itu sangat sederhana bagiku
Apa yang aku yakini saat ini
Itulah yang akan segera aku lakukan kini
Aku sedikit tak peduli
Mungkin benar-benar tak peduli
Dengan apa yang akan terjadi nanti

Aku coba menggunakan tudung suci
Ku mulai menyempurnakan penutup syar'i
Hijab yang menjaga perhiasan titipan Illahi
Hijab yang semoga 'kan menjaga iman dalam hati

Aku bukan wanita sempurna
Aku juga manusia biasa
Akrab dengan Dosa, Lupa
Namun, bukan berarti itu membuatku berhenti
Berhenti berarti mati
Aku belajar kini
Belajar memahami apa yang telah aku yakini
Islam, risalah suci

Lalu,
Kau pikir aku 'kan mendapat pujian dengan pilihanku
Kau pikir aku 'kan jadi terkenal dengan jilbabku
Kau pikir aku kan dijunjung tinggi, dihormati, dan disegani dengan keputusanku?

Tidak, Allah memilihkan kemuliaan yang lebih baik bagiku

Ada cacian
Ada makian
Ada umpatan
Ada pemaksaan
Mereka mencoba menghentikanku di tengah jalan

Pintu SMA, mereka telah menungguku
Membawa tongkat kayu
Bersiap untuk memaksaku
Melepas Kerudung suciku

Pintu kelas, mereka menantiku
"Keluar dari sini, atau lepas kain tak wajarmu!"
bentak mereka padaku

Dan laci-laci kelasku
Tas-tas sekolahku
Menjadi saksi bisu perjuanganku
Di sanalah aku menyimpan kainMu
Demi memenuhi perintahMu

Aku sendiri
Di awal tahun pertama
Aku mencoba

Allah sangat Adil bagiku
Allah sayang padaku
Percayalah
Dia Yang Mahatahu
Dia Yang Mendengar doa-doaku

Jangan kau tanya bukti
Itu telah jelas terjadi
Generasi setelahku
Telah tumbuh bunga-bunga perjuanganku
Yang telah menghasilkan buah keanggunan sekolahku
Satu
Satu demi satu kain itu
Mencoba membuat syar'i wanita-wanita itu

Jangan kau tanya bukti
Itu telah jelas terjadi
Berpuluh tahun setelah aku
Kain putih menghiasi sekolahku
Kain suci yang kuperjuangkan dulu

Kini, aku tak tahu lagi bagaimana generasi ini
Aku tak terlalu peduli
Kalian mencelaku aku atau memuji
Yang tak bisa kalian pungkiri
Aku terlanjur mengawalinya dulu
Akulah sang Pembaharu

***********************************************************************

Ditulis untuk mengenang perjuangan Akhwat pertama yang berjilbab di SMA 1.

Aku tidak tahu pastinya tanggal berapa itu terjadi. Dalam tulisan yang pernah aku baca, hanya disebutkan "Sebelum tahun 1990". Saat itu identitas keagamaan tidak diperkenankan dipakai di sekolah, termasuk jilbab. Larangan ini resmi dari pemerintah kala itu. Dalam tulisan yang aku baca, diterangkan bahwa si "Aku" setiap harinya diperiksa di gerbang depan sekolah. Pihak sekolah telah menunggunya dan memaksanya untuk mencopot kerudungnya. Karena itu dia terpaksa menyimpan kerudungnya di dalam tas sekolah. Di dalam kelas, ada beberapa guru yang mengizinkannya untuk memakai kerudung. Jika tidak, maka ia akan menyimpan kerudungnya di dalam laci meja siswa.

Sampai akhirnya keluarlah Surat Keputusan Menteri Agama no 100 tahun 1990 tentang diperbolehkannya pemakaian pakaian khusus di sekolah. Saat itulah jilbab, rok, dan baju lengan panjang diperbolehkan. SK itu keluar setelah salah seorang guru Agama Islam SMA 1 mengajukan surat permohonan dengan datang ke Jakarta langsung.

Aku sadar ada data-data yang tidak dapat aku pertanggungjawabkan sumbernya. Aku hanya mencoba menceritakan apa yang aku baca, apa yang pernah diceritakan padaku.

Bersyukurlah saudaraku, betapa perjuangan yang kita alami saat ini tidak lebih berat dari apa yang dulu pernah terjadi. Dengan demikian kuakhiri tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Aku, Sang Pembaharu

12/19/2012

Picture about Russia....me miss ya, Yana Revanov :'(

As I already told u, Miss. Russia is colorful :-)





Red Square And Kremlin Moscow Russia














Teladan; Lain di Luar, Lain di Dalam :)


Sebagai murid yang baru bisa lihat Teladan dari dalem selama kira-kira 5 bulan ini dan udah bisa liat Teladan dari luar selama bertahun-tahun, aku mulai ngerasain ternyata kultur Teladan mayoritas ngga sama kayak apa yang masyarakat bilang. Pasti ada kan yang pernah denger kalo Teladan itu anak-anaknya cupu, ngga gaul, ekstrim banget sama Islam, jaga hijab banget, ngga punya kegiatan eksternal, ini lah itu lah. Percaya ngga kalo hampir semua dari rumor itu salah? :)

Kalo ngebahas tentang murid-muridnya yang cupu dan ngga gaul sebenernya di setiap sekolah ada kan?

Se-famous apapun sekolahmu, apa kamu yakin disitu ngga ada anak cupu satupun?
Teladan juga kayak gitu, kawan. Mungkin karena kebanyakan anak Teladan (lebih) kalem dan ngga neko-neko daripada anak-anak sekolah lain, makanya terus dicap cupu dan ngga gaul. Kalo ngga percaya, coba yuk main ke Teladan secara rutin beberapa hari dan kenali auranya. Emang sih, suasananya Teladan sama sekolah lain beda banget. Apalagi kalo diliat dari faktor bangunannya. Teladan punya 1 gedung induk berlantai 3. Lantai 1 buat kelas XII, lantai 2 buat kelas XI, dan lantai 3 buat kelas X. Walaupun ada 4 kelas yang terpisah, tapi bisa ngebayangin kan betapa umpek-umpekan andaikata penghuni gedung induk keluar kelas serempak? Nah ini, dari fisik aja udah beda banget. Dan kalian nyadar ngga, kalo gedung induknya Teladan tuh kembar sama JNM yang ada di timurnya itu tuuuh...
Di Teladan tetep ada kok anak-anak socialita, suka pake sesuatu yang norak atau apalah. Tapi sebisa mungkin dari kami meminimalisir itu semua. Sejak kami MOS, 6S sudah membahana di sudut sekolah ini. Kelima unsur udah biasa sih, tapi ada satu hal yang bikin Teladan itu...ngga suka hura-hura. Kami ini SEDERHANA~ *maaf kalo warna tulisannya ngga bisa sederhana, ini beda konteks*
Kalo pas pelajaran, Teladan itu lebih sepi, adem dan menenangkan. Apalagi kalo pas hujan. Waaaah, it's a perfect place to re-play your memory :'D #outofthetopic

Kalo ngebahas tentang Islamnya yang ekstrim, hmmm...introspeksi dulu yuk.

Bukannya Islam yang murni itu emang susah banget dijalani di era globalisasi kayak sekarang ini ya? Teladan itu bukan meng-ekstrim-kan agama Islam dan me-nomor dua-kan agama lain. Ngga kayak gitu, dan jangan pernah berfikiran kayak gitu. Teladan justru pengen bikin murid-muridnya taat beragama. Ngga ada sejarahnya kan semakin banyak umur kita, semakin dewasa kita, semakin banyak pengalaman malah tambah jelek agamanya? Coba kita liat gimana Islam di sekeliling kita sekarang ini. Sebenernya Islam kan emang agama yang suci, dan yang dianut oleh orang-orang suci. Dan mungkin nih yaaa....sekarang situasinya udah beda 180 derajat. Bisa jadi Islam yang bener-bener Islam malah dianggap berbahaya ataupun dibilang ekstrim. Dan Islam yang bener-bener hancur malah dianggap "harusnya kan ya kayak gini, ngga perlu yang over gitulah." Hayooo... :) Percaya deh, Teladan bukan fanatik Islam. Tapi Teladan ngajarin kita, nunjukin ke kita gimana sih Islam itu?

Kalo ngebahas tentang hijab antara cewek cowok, sebenernya ini emang perlu dilakuin. Walaupun aku sendiri belum bisa. Rasanya masih gimana gitu kalo mau salaman sama temen cowok atau bapak guru harus menangkupkan kedua telapak tangan dan ada radius sekian puluh senti. Kebiasaan yang sulit, tapi buat ke depannya yang lebih baik, harus dilatih deh. Hijab ala beberapa murid beda sama hijab ala Rohis. Aku sebagai murid yang ngga termasuk rohis ya biasa-biasa aja sih kalo mau deketan sama lawan jenis. Asal itu ngga keterlaluan dan membahayakan sih fine-fine aja. Oh iya, di Teladan emang ngga boleh boncengan cewek-cowok yang bukan mahramnya. Mau nganggep ini alay? Ga papa kok. Kan biar ngga ada setan yang bisa ngganggu selama di atas motor :)


Tentang kegiatan eksternal ya....

Jujur, emang kami sampe sekarang ini masih terus ngadain event ekstern yang bisa bikin kesan Teladan berubah jadi lebih baik lagi di mata masyarakat. Kalo mau tau event-eventnya Teladan sih sebenernya buanyaaaak abis, tapi sayangnya internal semua. Dari pelajaran lah, sienom lah, ekskul lah, organisasi, bla bla bla itu aslinya udah bisa banget bikin murid-muridnya kewer. Sejauh ini event eksternalnya udah mulai nambah. Semua kan butuh proses :D dan kami masih harus belajar banyak tentang gimana menarik peminat di event ekstern itu. Sekali lagi, semua butuh proses. Semua yang indah-indah itu juga udah diletakin sama Allah kok di titik mana aja.

Ini lah, itu lah nya mungkin bisa dibahas di lain waktu hehehe.

Amanatnya, don't judge a book by it's cover. Salam semangat! ^•ᴥ•^

12/05/2012

Seutas Kita


MEMOIR

Ketika rindu yang sepihak menjadi alasan membenci malam
Kiasan demi kiasan tak segera disampaikan angin
Isyarat yang terpendam, melampaui batas logika
Rasa kecewa mendominasi ketakutan
Kebisuan ini menyayat. Sadarkah?

Aku menjadi aku, kau menjadi kau
Kemanapun kakiku menapak, skakmat; pindah!
Kita dirajai egois, dikuasai gengsi

Kemana kau saat aku terkurung sepi, menabung mimpi
Sendiri?
Kemana kau saat aku membungkam fakta,
Membalikkan rasa sakit hati?
Dimana cerahnya kolaborasi memori itu?
Fatamorgana adanya
Ribuan detik itu, tak tersisa ataupun mengendap
Menyimpan tanda tanya raksasa
Memayungi berbagai curiga

Awan kelabu menjadi saksi seorang
Sepasang remaja menenun kisah
Bak laba-laba memintal benang, tak sekejap
Kokoh terlihat namun rapuh
Tapi apa? Ketika makhluk-Nya yang lain berantagonis
Meremukkan dengan angkuh, cukup sekejap
Itulah kita
Yang kini terpisahkan jurang tak berdasar
Berkawan  dengan kesendirian
Berlawan dengan pertemuan

Tangisanku bukan berarti duka
Bukan berarti luka
Ketegaranku bukan berarti tak goyah
Bukan berarti tak merasa
Keteguhan sikapku bukan berarti acuh
Bukan berarti tak memahami
Kepalaku yang tak berpaling bukan berarti berhenti peduli
Bukan berarti berhenti memperhatikan
Diamku bukan berarti tak tahu
Bukan berarti tak mau tahu

Aku masih mengais kerendahan hatimu
Di antara jarum yang tak absen menggores
Di antara senyum yang tak lagi ramah
Di antara untaian kata yang tak lagi denotatif

Pemberianmu masih terjaga dengan baik
Menyimbolkan keakraban kita
Walau kini tak lagi erat


Terimakasih untuk semuanya
Tertanda, perempuan yang masih dan selalu kuat