Dimana aku, dan dua orang sahabatku rela membuka kran untukmu. Untuk kamu, seseorang yang aku pun tidak tahu apa istimewanya.
Ingat nggak kamu saat pagi itu?
Dimana kamu mengajakku menjelaskan semuanya pada salah seorang teman baikmu, tentang hubungan kita.
Dimana aku langsung menyanggupinya.
Ingat nggak kamu saat malam itu?
Dimana kamu mengajukan satu pertanyaan, dan aku menjawabnya dengan sangat-sangat jujur. Iya, semua itu memang tanpa alasan.
Ingat nggak kamu saat malam itu juga?
Dimana aku menanyakan hal yang sama kepadamu, dan kamu menjawabnya dengan aku tidak tahu apakah itu jujur atau tidak. Kamu menjelaskan semuanya, bahwa ini hanya salah paham semata. Kamu menjelaskan kalau aku yang salah mengartikan. Oke, aku minta maaf.
Ingat nggak kamu, semalaman itu untuk pertama kalinya aku berhasil dipecah-belahkan? Pertama kalinya aku tidak menggubris bujukan bapak dan ibuk untuk keluar kamar. Pertama kalinya aku berteriak dalam sekapan bantal, dalam tangisan yang benar-benar mengalir, deras pula.
Ingat nggak kamu saat itu juga kamu bertanya padaku apa aku menangis? Kamu membujukku berhenti menangis. Kamu bilang kamu yang salah. Aku tidak bisa berhenti. KAMU NGGAK TAHU RASANYA!!!
Sadar nggak kamu keesokan harinya aku menunggumu datang?
Untuk sekedar meminta maaf juga nggak apa-apa. Tapi apa kamu datang? Tidak. Aku sama sekali tidak melihatmu.
Ingat nggak kamu, siang itu perasaanku benar-benar nggak karuan?
Aku marah dengan sikapmu yang seolah semuanya baik-baik saja. Lalu, saat aku berjalan ke lorong itu, rupanya kamu mengikutiku. Aku sadar. Langkah kakimu terdengar. Kamu memanggil namaku beberapa kali, tapi aku tidak menengok. Aku menangis (lagi). Apalagi saat aku berbalik arah dan melihatmu. Aku kecewa sekali. Kamu jahat bung! Untuk kedua kalinya, KAMU NGGAK TAHU RASANYA!!!
Ingat nggak kamu saat kamu menurunkan bendera?
Dimana aku tetap berdiri di samping pohon itu. Aku terus memukulnya dengan keras. Sial, tangisanku belum berhenti.
Ingat nggak kamu saat kita dan teman-teman yang lain sholat ashar berjamaah di mushola?
Di tempat wudhu aku menangis lagi, semakin menjijikkan saja! Tapi saat kamu mulai terlihat, aku menghapus semuanya. Asal kamu tahu, disitu aku berharap kamu meminta maaf (lagi). Aku nggak suka kamu peduli terhadapku, hanya di depan teman-teman. Apa itu namanya?!
Tahu nggak kamu saat selesai sholat?
Aku mundur ke saf belakang paling pojok. Aku cerita sama Allah. Aku tidak mencari perhatianmu dengan isakanku! Entah kenapa aku berharap lagi. Agar kamu keluar paling akhir, dan menemaniku disini. Dan menyelesaikan semuanya. Tapi ternyata itu sia-sia. Kecewa dengan harapan sendiri. Ah menyebalkan! Kamu tidak menghampiriku. Di mana sih hatimu?
Ingat nggak kamu saat aku sampai di lapangan?
Kamu meminta maaf lagi. Tapi kamu tidak sendiri. Sebenarnya itulah yang membuatku semakin marah denganmu. Kamu pengecut! Aku tidak mau dan aku tidak percaya kalau maafmu itu benar-benar keinginan hatimu. Sudah puaskah berhasil bikin aku hancur berkeping-keping? Apa tujuanmu siang itu memberi jawaban palsu? Apa maksudmu bersenang-senang dengan teman-teman saat disitu juga ada aku? Apa rencanamu setelah ini?!
"Jika ku bukan orangnya jangan beri aku harapan itu, yang ku mau. Jika ku bukan orangnya jangan pernah katakan sayang dan cinta" - Ten2Five
Semenjak hari itu, sampai sekarang... Tidak ada lagi kamu yang dulu aku kenal. Apa aku bisa dengan mudah melupakan semuanya dan kembali menganggap tidak ada apa-apa di antara kita?
Entah aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu tidak mementingkan perasaan. Ternyata rasa itu tidak pernah mempunyai nama.
Semakin hari kamu semakin tidak menunjukkan aksi dari kata-kata maafmu. Sampai saat ini pun kamu melihatku mungkin hanya sewaktu kamu butuh aku. Terima kasih untuk semuanya. Kamu mengajariku semua macam emosi. Dan seandainya kamu tahu...aku tidak akan melupakan 3 hari itu *senyum*
tuuyy :" kata katanya "Ternyata rasa itu tidak pernah mempunyai nama" sesuai. yg sabar yaaa :')
ReplyDelete