Empat ratus tiga puluh satu hari perjalanan ini kutempuh.
Lurus, tapi tidak mulus. Terlalu banyak hambatan di jalan ini. Tapi aku tak mengerti kenapa batinku selalu menolak untuk berbalik arah, lalu memulai perjalanan baru di rute yang berbeda. Walaupun dari awal aku tidak pernah memikirkan tujuannya. Aku berjalan dalam langkah yang diselimuti perasaan resah, gelisah, dan bersalah. Aku tidak memperdulikan setiap belokan yang ada. Aku terlalu percaya bahwa di ujung jalan lurus ini ada cahaya terang.
Lurus, tapi tidak mulus. Terlalu banyak hambatan di jalan ini. Tapi aku tak mengerti kenapa batinku selalu menolak untuk berbalik arah, lalu memulai perjalanan baru di rute yang berbeda. Walaupun dari awal aku tidak pernah memikirkan tujuannya. Aku berjalan dalam langkah yang diselimuti perasaan resah, gelisah, dan bersalah. Aku tidak memperdulikan setiap belokan yang ada. Aku terlalu percaya bahwa di ujung jalan lurus ini ada cahaya terang.
Bodoh sekali aku, yang telah menganggap kejadian itu sebagai lampu hijau untuk melangkah ke area asing. Dan lebih bodoh lagi pada hari ke seratus enam belas, aku bertemu seseorang yang entah kenapa membuat getaran kecil di hatiku. Hey...apa istimewanya orang ini? Belum kudapat jawabannya. Dia membawaku ke tempat yang sangat indah. Setiap centi pemandangannya tak lepas dari kata "menakjubkan". Lantas aku berfikir kalau aku ingin bersama orang ini seterusnya.
Aku nyaman berada di sisinya.
Aku suka cara dia menyapaku,
mengajakku ke tempat seperti ini,
dan bercerita sesuatu.
Aku suka senyumnya,
gaya dia berbicara,
juga tingkah lakunya.
Aku suka semuanya tentang dia.
Aku menganggap ini sebagai salah satu tanda itu. Aku terlalu yakin pada kesimpulan yang aku buat sendiri, tanpa memperbolehkan orang lain berpendapat. Hingga justru mengesampingkan kabar yang dia utarakan, karena aku terhanyut akan suasana ini. Sayang, kebersamaanku dengannya tak bisa lama. Disini sudah ada satu belokan. Aku memilih untuk tetap jalan lurus. Seulas senyum tak pernah absen dari wajahku setelah pertemuan dengan orang itu. Selama tiga hari aku memendam rindu padanya. Hingga pada hari ke seratus dua puluh aku berbalik badan dengan harapan masih bisa melihat orang itu di tempat yang sama, tempat kami bertemu. Tak kuduga, dia-lah yang berbicara terlebih dulu. Dia berteriak dan melambaikan tangan, "Jangan pernah lupa dengan empat hari yang lalu!". Aku mencubit lenganku. Oh Tuhan, ini bukan mimpi, sungguh. Aku pun menjawab, "Aku tidak akan lupa. Kamu juga ya!" sekaligus membalas lambaiannya. Tanpa kusadari, pipiku telah basah. Air mata bahagia-kecewa-terharu. Semoga aku bisa terkunci di memorinya.
Aku nyaman berada di sisinya.
Aku suka cara dia menyapaku,
mengajakku ke tempat seperti ini,
dan bercerita sesuatu.
Aku suka senyumnya,
gaya dia berbicara,
juga tingkah lakunya.
Aku suka semuanya tentang dia.
Aku menganggap ini sebagai salah satu tanda itu. Aku terlalu yakin pada kesimpulan yang aku buat sendiri, tanpa memperbolehkan orang lain berpendapat. Hingga justru mengesampingkan kabar yang dia utarakan, karena aku terhanyut akan suasana ini. Sayang, kebersamaanku dengannya tak bisa lama. Disini sudah ada satu belokan. Aku memilih untuk tetap jalan lurus. Seulas senyum tak pernah absen dari wajahku setelah pertemuan dengan orang itu. Selama tiga hari aku memendam rindu padanya. Hingga pada hari ke seratus dua puluh aku berbalik badan dengan harapan masih bisa melihat orang itu di tempat yang sama, tempat kami bertemu. Tak kuduga, dia-lah yang berbicara terlebih dulu. Dia berteriak dan melambaikan tangan, "Jangan pernah lupa dengan empat hari yang lalu!". Aku mencubit lenganku. Oh Tuhan, ini bukan mimpi, sungguh. Aku pun menjawab, "Aku tidak akan lupa. Kamu juga ya!" sekaligus membalas lambaiannya. Tanpa kusadari, pipiku telah basah. Air mata bahagia-kecewa-terharu. Semoga aku bisa terkunci di memorinya.
Hari ke seratus tiga puluh enam. Aku menyaksikan ada jurang lebar dan dalam di hadapanku. Aku masih bertekad untuk melanjutkan perjalanan. Aku melihat ada bentangan tali di sini dan di ujung sana. Aku pasti bisa melewatinya. Tapi ternyata tidak mudah, saat di tengah-tengah jembatan, talinya putus dan aku terbanting ke sisi jurang seberang. Terlalu keras, membuat tubuhku penuh luka. Jurang ini....benar-benar si....al!!! Energiku sudah terkuras habis. Saat aku sudah sampai di atas, aku pun tertidur menghabiskan beberapa hari untuk sekedar mengembalikan energiku. Aku kira perjalanan ini hanya menghabiskan empat ratus hari. Ternyata lebih.
Langkahku semakin dan semaaaakin melambat.
"Seperti masuk dalam labirin, setiap kali kucoba mengurai segala tentangmu. Sesatku di persimpangan jalan. Menunggumu dalam ketidak-pastian."
No comments:
Post a Comment