6/19/2012

Yang Tersimpan dari Seorang Teman

Telah ku temukan sebuah tempat untuk kapal kecilku berlabuh.
Menjatuhkan jangkarnya dan berharap tak akan menariknya kembali.
Tempat ini begitu indah.
Meski tak terlihat oleh mata, tapi begitu nyata.
Bermil-mil jalan telah ku tempuh.
Tapi kenapa semakin jauh semakin berkabut?
Malah terasa seperti tak berujung.
Aku tahu kau menungguku di ujung sana.
Namun, ku rasa kaulah yang menciptakan jalan ilusi ini.

Aku mencintaimu. Titik.
Bukan tanda tanya.
Semoga saja...

Lebih baik kau acuhkanku daripada kau bohongiku!
Kau berikan senyummu padaku.
Kasihmu
rindumu
tawamu
tangismu
dan seluruhnya untukku.
Hanya satu hal yang kau simpan rapat-rapat dariku.
Aku pikir kau akan memberikannya padaku.
Tapi kini, dengan mudah kau berikan padanya.
Hal itu adalah hatimu.

Bagai purnama di kala langit berawan.
Terkadang terang, tak jarang redup.
Seperti itulah hatiku padamu.
Tak kurang,
tak lebih.

6/17/2012

Harus Diingat

Statusku sekarang emang udah bukan jadi siswa SMP Negeri 1 Yogyakarta, tapi frekuensiku ke sekolah bisa dibilang terlalu sering. Minggu kemaren udah 6 kali, dan mungkin minggu ini juga bakal segitu ._. Sekedar main atau kalo nggak ya nemenin Garuda latihan LT 5. Setia kaaaaan? :)) Iya dong, jelas! Hehehe. Rasanya juga kaya ada yang hilang gitu kalo belum ketemu sama temen-temen seperjuanganku, mereka kocak, koplak, seru banged, dan semacamnya. Kalo udah ngumpul lalu cerita-cerita, kita tuh gampaaaaang banget ngakak cuma gara-gara hal sepele. Mereka tuh yaaa TekSaTekPit, Vina, Uuk, There, Ima, Amita, juga tuyung ;;) gadis-gadis yang sangat hebat. Aku bakal kangen juga sama anak-anak GABER 10/11 + ZHENNETY 012 :')














6/16/2012

W.Y.A.T.B

HAPPY BIRTHDAY TO YOU~ HAPPY BIRTHDAY TO YOU~ HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY~ HAPPY BIRTHDAY TO YOU~ ~


SELAMAT ULANGTAHUN RINUS KINAN YANG KE 21 JJ
SEMUA DOA YANG BAIK-BAIK DARI KAMI SUDAH DIPANJATKAN. SEMOGA SEMUA BISA TERKABULKAN. TAMBAH TUA TAMBAH WANGUN + TAMBAH DEWASA YO MAS BRO JJJ AMIIN... C

6/15/2012

Satu Dua-Enam

"Dia jahat mit. Jahat sumpah. Ya oke sekarang kamu bilang udah enggak, dan udah biasa aja. Tapi dia di momen ini bener-bener jadi PHP mit" | "Hah? Iya po mit? Kok aku nggak menangkap sebagai harapan palsu ya?" | "Emosimu yang belum netral. Mungkin kamu masih ada di atas sana tuh" --

"Kalo dalam waktu dekat ini dia bilang suka ke kamu gimana mit?" | "Dia siapa ma?" | "Ya itu..." | "Gak tau, mungkin bakal bilang alhamdulillah, tapi sayangnya dia nggak ngomong. Yaaaah...biarin apa adanya dulu aja ;) | "Okelah, tapi kodenya udah mulai kelihatan hlo" --

"Mit, tau nggak sih kamu? Sadar nggak sih? Tadi pas kita ngomongin si itu, dia selalu aja ngalihin perhatian" | "Enggak. Emang ada apa e?" | "Ya kita sih berpendapat...kemungkinan besar kalian sama mit" | "Gak deh mit, ma. Terlalu serrrrr" | "Loh ya siapa tau bakal kejadian" | "....." | "Oh ya terus to yang paling tak inget tuh waktu siang itu. Dia melipir mit. Kaya ada sesuatu gitu. Padahal ya di situ aja juga aman kok. Ini pasti bakal ada apa-apanya" | "......Wah kalo itu aku juga lihat ma. Bingung hahahaha. Tapi ya, mungkin ada sesuatu yang aku juga nggak tau. Dibiarin ngalir wae yaaah ;D" ------------- sooo unpredictable.

6/06/2012

Tanpa Nama

Ingat nggak kamu saat siang itu?
Dimana aku, dan dua orang sahabatku rela membuka kran untukmu. Untuk kamu, seseorang yang aku pun tidak tahu apa istimewanya.


Ingat nggak kamu saat pagi itu?
Dimana kamu mengajakku menjelaskan semuanya pada salah seorang teman baikmu, tentang hubungan kita.
Dimana aku langsung menyanggupinya.


Ingat nggak kamu saat malam itu?
Dimana kamu mengajukan satu pertanyaan, dan aku menjawabnya dengan sangat-sangat jujur. Iya, semua itu memang tanpa alasan.


Ingat nggak kamu saat malam itu juga?
Dimana aku menanyakan hal yang sama kepadamu, dan kamu menjawabnya dengan aku tidak tahu apakah itu jujur atau tidak. Kamu menjelaskan semuanya, bahwa ini hanya salah paham semata. Kamu menjelaskan kalau aku yang salah mengartikan. Oke, aku minta maaf.


Ingat nggak kamu, semalaman itu untuk pertama kalinya aku berhasil dipecah-belahkan? Pertama kalinya aku tidak menggubris bujukan bapak dan ibuk untuk keluar kamar. Pertama kalinya aku berteriak dalam sekapan bantal, dalam tangisan yang benar-benar mengalir, deras pula.


Ingat nggak kamu saat itu juga kamu bertanya padaku apa aku menangis? Kamu membujukku berhenti menangis. Kamu bilang kamu yang salah. Aku tidak bisa berhenti. KAMU NGGAK TAHU RASANYA!!!


Sadar nggak kamu keesokan harinya aku menunggumu datang?
Untuk sekedar meminta maaf juga nggak apa-apa. Tapi apa kamu datang? Tidak. Aku sama sekali tidak melihatmu.


Ingat nggak kamu, siang itu perasaanku benar-benar nggak karuan?
Aku marah dengan sikapmu yang seolah semuanya baik-baik saja. Lalu, saat aku berjalan ke lorong itu, rupanya kamu mengikutiku. Aku sadar. Langkah kakimu terdengar. Kamu memanggil namaku beberapa kali, tapi aku tidak menengok. Aku menangis (lagi). Apalagi saat aku berbalik arah dan melihatmu. Aku kecewa sekali. Kamu jahat bung! Untuk kedua kalinya, KAMU NGGAK TAHU RASANYA!!!


Ingat nggak kamu saat kamu menurunkan bendera?
Dimana aku tetap berdiri di samping pohon itu. Aku terus memukulnya dengan keras. Sial, tangisanku belum berhenti.


Ingat nggak kamu saat kita dan teman-teman yang lain sholat ashar berjamaah di mushola?
Di tempat wudhu aku menangis lagi, semakin menjijikkan saja! Tapi saat kamu mulai terlihat, aku menghapus semuanya. Asal kamu tahu, disitu aku berharap kamu meminta maaf (lagi). Aku nggak suka kamu peduli terhadapku, hanya di depan teman-teman. Apa itu namanya?!


Tahu nggak kamu saat selesai sholat?
Aku mundur ke saf belakang paling pojok. Aku cerita sama Allah. Aku tidak mencari perhatianmu dengan isakanku! Entah kenapa aku berharap lagi. Agar kamu keluar paling akhir, dan menemaniku disini. Dan menyelesaikan semuanya. Tapi ternyata itu sia-sia. Kecewa dengan harapan sendiri. Ah menyebalkan! Kamu tidak menghampiriku. Di mana sih hatimu?


Ingat nggak kamu saat aku sampai di lapangan?
Kamu meminta maaf lagi. Tapi kamu tidak sendiri. Sebenarnya itulah yang membuatku semakin marah denganmu. Kamu pengecut! Aku tidak mau dan aku tidak percaya kalau maafmu itu benar-benar keinginan hatimu. Sudah puaskah berhasil bikin aku hancur berkeping-keping? Apa tujuanmu siang itu memberi jawaban palsu? Apa maksudmu bersenang-senang dengan teman-teman saat disitu juga ada aku? Apa rencanamu setelah ini?!


"Jika ku bukan orangnya jangan beri aku harapan itu, yang ku mau. Jika ku bukan orangnya jangan pernah katakan sayang dan cinta" - Ten2Five


Semenjak hari itu, sampai sekarang... Tidak ada lagi kamu yang dulu aku kenal. Apa aku bisa dengan mudah melupakan semuanya dan kembali menganggap tidak ada apa-apa di antara kita?


Entah aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu tidak mementingkan perasaan. Ternyata rasa itu tidak pernah mempunyai nama.


Semakin hari kamu semakin tidak menunjukkan aksi dari kata-kata maafmu. Sampai saat ini pun kamu melihatku mungkin hanya sewaktu kamu butuh aku. Terima kasih untuk semuanya. Kamu mengajariku semua macam emosi. Dan seandainya kamu tahu...aku tidak akan melupakan 3 hari itu *senyum*

6/04/2012

Hari yang Tidak Tersimbolkan

Satu hari kemarin cukup abstrak. Bukan tentang apa yang aku lakuin, tapi tentang gimana sih perasaanku.

Dimulai dari pagi-pagi jam 9 aku diampiri Gilang. Kami sepedaan berdua menuju Ambarbinangun, dengan niat menyemangati Garuda. Di sepanjang perjalanan kami cerita-cerita gitu. Dan sampai pula pada suatu hal yang...aduh kenapa harus gini? ........... Ternyata Gilang sama resahnya kaya aku. Kami juga sama-sama nggak ngira. Sampe-sampe aku bilang "kenapa nggak diulangi aja ya?" Topik pembicaraan kami pun mayoritas itu. Yah, lumrah.

Aku sama Gilang sampe Ambarbinangun jam 10. Masih sepi. Cuma kami berdua. Jadi kaya anak ilang. Celingak-celinguk hahaha tapi nggak juga ding, kami terus duduk di samping lapangan biar bisa lihat Garuda langsung. Kami seneng banget lihat mereka masih semangat. Tapi ada satu pertanyaan untuk itu, yang ternyata jawabanku sama Gilang salah. Keslamur.

Beberapa menit kemudian datanglah Renny dan Alfian. Lalu duduk di sebelah kami. Obrolan ngalor-ngidul pun juga telah tercipta *tsaah*. Di tengah-tengah perbincangan kami yang cukup seru, Bunga sms aku "mbak aku gak tau jalan" wkwkwkwk aku malah ngetawain Bunga, padahal aku kalo nggak barengan Gilang juga nggak bakal nyampe sini dalam waktu 15 menitan -_- aku mbales dan ngasih rute sesuai dengan apa yang diomongin Gilang, dan dia mengambil tindakan untuk menjemput Bunga. Waaaaah Gilang superrrrr \y/. Eh tapi ternyata Gilang nggak kepethukan sama Bunga. Jadi...Bunga sampe duluan. Nah terus aku sama yang lainnya spontan ngejek "mau dateng buat siapa? Sanah diparkirin dulu sepedanya. Disitu tuuuuuh" sambil nunjuk arah utara. Sebenernya cuma jadi kode, soalnya disana ada si 07 hehehe. Sayang yah... Bunga nggak kesana. Dia sih sok malu-malu kucing gitu deeeh hahaha.

Waktu Garuda mulai jalan ke tempat kami duduk buat naruh barang-barang...... Ah ya begitulah :') Ehm, skip aja ya ;)

Nah, ini nih yang paling konyol. Pas kita bertiga mau balik ke sekolah dan baru sampe pertigaan deket situ, Bunga ngomong "mbak, kok gak ada yang nyusul kita ya?" aku jawab, "siapa emang?? Oh yaya aku tau. Kita? Nggak deh, kamu aja :p" nggak lama kemudian, harapannya Bunga terkabul. Duileeee dikejar si abang G :3 hahaha yang bikin geli tuh aku, Gilang, Bunga ketinggalan. Malah jadi mereka yang di depan. Mau ngejar juga syusaaaah hla ngebut banget kaya gitu. Kami nggak cuma ketinggalan ding, salah belokan pula. Wah isin.

Di jalan, aku sama Bunga diajari 'teknik menghemat waktu dengan bersepeda di area yang macet' sama Gilang. Asik lho, banget malah. Nah pas sampe di sekolah, ternyata Renny sama Alfian udah sampe sedari lama. Ya iyalah, naik motor juga -,- oh Roy yang naik mobil juga sudah sampe barengan Renny Alfian. Disini aku nggak dong apa-apa soalnya ketinggalan obrolan. Yasudah tak apa. Kami ber-enam langsung cus ke Ulu Bundar. Untuk mengisi perut. Pas makan, aku iseng ngomong "kalo kita disusul gimana bang?" dia jawab "wah mbak, harusnya aku yang bilang biar kejadian lagi kaya tadi. Hahaha. Kami pulang kalo gak salah jam 2an. Pokoknya habis sholat dzuhur.

Terima kasih Gilang, Bunga, Roy, Renny, Alfian :)

Setengah hari sudah diisi sama seneng, ngakak, sedih, campur jadi satu. Tapi pas malemnya...aduh kenapa jadi khawatir lagi gini. Dan khusus malam tadi twitter jadi tempat yang tidak membuat nyaman. Apalagi dengan ke-pending-an sms 3 halamanku buat salah satu teman. Ah nyebai. Aku sih langsung cerita ke tuyung sama Roy. Mereka berhasil bikin aku kembali positive thinking dan percaya. Alhamdulillah ya masih punya temen-temen yang dengan gampang bikin tenang. Seneng deh. Hehehe.

Oh iya makasih juga buat salah satu temenku itu yang udah pernah bikin aku jadi Penerima Harapan Palsu. Waktu itu aku yang bodo, aku juga yang salah. Tapi jadi PHP juga bukan mauku hlo. Itu gara-gara sikapmu ke aku. Nah!. Sekarang aku cuma bisa berdoa aja semoga kamu bisa dapet seseorang yang terbaik, siapapun itu. "Aku seneng asal kamu seneng" berlaku buat situasi ini. Terima kasih ya buat semuamuanya. Aku selalu sayang kamu J

6/02/2012

There Must be a Lesson

Hari ini pengumuman nilai ujian nasional. Deg-degan sih pasti ya. Tapi secara pribadi alhamdulillah nilaiku sudah sebanding dengan jatuh bangunnya selama ini. Jujur, aku seneng banget. Bisa bikin bapak ibuk bangga. Cita-cita masuk Teladan juga nggak seburem yang dibayangkan. Tapi, nilai segitu juga nggak menjamin bahagia luar dan dalam. Ada yang bikin ngganjel dan itu pasti. Kenapa? Macem-macem alesannya.


Hmm, aku sama tuyung ngerasain sesuatu yang berbeda. Diantara seneng soalnya kita punya kesempatan buat sesekolah lagi dan kembali menjadi duo tuyung, juga sedih soalnya....yaaaah seharusnya-kamu-sudah-bisa-tau-itu-apa :') Aku sempet mbatin "serasa nggak adil yah. Terlalu random". Tuyung lebih dari sekedar "huaaaa aku gak bisa sering ketemu lagi". Aku tau dia lebih dari hebat. Tapi ya kembali lagi sih, sehebat-hebatnya seorang cewek, mesti ada sisi yang bisa bikin dia lemah (banget). Oke ya, intinya kita berdua masih resah-gelisah dan apalah itu teman-temannya.

Waktu aku dan teman-teman di dalem gor, tepatnya di sebelah selatan. Kak memed ngasih tau beberapa hal. Nah kami langsung ngluntruk gitu. Ini bener-bener ah unspeakable. "Harus menguatkan ya" itu terdengar seperti apa kalau dikatakan pas detik-detik menjelang pengumuman? Pasti ada sesuatu yang 'meleset' bukan? Aku bilang "iya". Beberapa anak ya ngerasa 'kenapa harus gini?' dan aku termasuk dalam beberapa anak itu. Ini jadi semacam beban tersendiri yang menutupi rasa senang. Dan lebih menyakitkan ketimbang kamu sedih gara-gara masalah A, lalu datang masalah B yang lebih rumit. Ini antara pengen hajarrr sekolah lanjutan dan bangga sama hasil yang didapet, sama kalo aku disitu gimana? Aku pengen sama temen-temen, aku juga nggak mau pisah sama dia, dan semacamnya. Salah satu dari kami malah ada yang bilang "aku tuh nggak pantes dapet nilai segitu, aku terkesan ngambil haknya temen-temen yang lebih pinter mit."

*-----------skip-----------*

Sempet mengungkapkan lewat twitter walaupun yang nyambung cuma dikitt. Lalu direspon sama uuk. Dia tanya aku kenapa? Kaya ada sesuatu yang ngganjel. Aku cerita sama dia. Udah mbrambangi sih waktu ngetiknya. Terus pas mencet tombol kirim langsung tessss. Yah bantalku basah deh :'( "mau gimanapun kik,..............." baru baca kalimat pertamanya aja udah blawur gini. Ternyata aku sudah mbrebes mili. Apalagi lihat emot akhirnya ":))" waaa semakin deras. Kadang kala uuk bikin jengkel seperti saat ini. Aku nangis kan di kamar. Tutupan guling. Lalu bapak masuk kamar. Tanya aku kenapa, tapi tak jawabnya lewat gedekan. Dari dulu kalo nangis bukan gara-gara dimarahin tuh pasti malu. Sudah besar kok masih nangis :') Waktu aku keluar kamar aku sempet ngobrol sama bapak, "Pak, kok ndadak ngene iki toh? Membuat kagol sekali e." 'lha iyo arep piye meneh. Wis jalane nduk. Wis ora iso diubah. Gusti Allah meridhoine ya memang seperti itu."

Kalo kamu di posisi yang persis plek seperti ini...mungkin kamu bakal langsung tau rasanya :') berpisah karena keadaan lebih sulit diterima daripada karena kesepakatan.